Senin, 24 Januari 2011

Motif penyerang melakukan Denial of Service

Menurut Hans Husman (t95hhu@student.tdb.uu.se), ada beberapa motif cracker
dalam melakukan Denial of Service yaitu:

1. Status Sub-Kultural.
2. Untuk mendapatkan akses.
3. Balas dendam.
4. Alasan politik.
5. Alasan ekonomi.
6. Tujuan kejahatan/keisengan.

Satatus subkultural dalam dunia hacker, adalah sebuah unjuk gigi atau lebih
tepat kita sebut sebagai pencarian jati diri. Adalah sebuah aktifitas umum
dikalangan hacker-hacker muda untuk menjukkan kemampuannya dan Denial of
Service merupakan aktifitas hacker diawal karirnya. Alasan politik dan
ekonomi untuk saat sekarang juga merupakan alasan yang paling relevan. Kita
bisa melihat dalam 'perang cyber' (cyber war), serangan DoS bahkan dilakukan
secara terdistribusi atau lebih dikenal dengan istilah 'distribute Denial of
Service'. Beberapa kasus serangan virus semacam 'code-red' melakukan serangan
DoS bahkan secara otomatis dengan memanfaatkan komputer yang terinfeksi,
komputer ini disebut 'zombie' dalam jargon.Lebih relevan lagi, keisengan
merupakan motif yang paling sering dijumpai. Bukanlah hal sulit untuk
mendapatkan program-program DoS, seperti nestea, teardrop, land, boink,
jolt dan vadim. Program-program DoS dapat melakukan serangan Denial of
Service dengan sangat tepat, dan yang terpenting sangat mudah untuk
melakukannya. Cracker cukup mengetikkan satu baris perintah pada Linux Shell
yang berupa ./nama_program argv argc ...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar